Rabu, 15 Januari 2014

Bersandar Kepada Allah Swt.




Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya, mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuu rahaa wa takwahaa", "Dan sudah diilhamkan dihati kita untuk mau berbuat memilih mana kebaikan, mana keburukan " (QS. Asy Syamsi 91:8)

          Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan kepada kita tingga kita memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk orang yang berkelakuan buruk dan terpuruk, bukan karena salah siapapun, kecuali diri kitalah yang memilih menjadi buruk dan terburuk, naudzubillah.

          Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya hanya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Perhatikan saja, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan segera terguling, akan jatuh terpelanting. Bersandar kepada sebuah kursi,dia akan sangat takut kursinya diambil.

          Begitulah orang-orang yanga panik dalam hidup ini adalah orang-orang yang bersandar kepada kedudukannya,bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya,bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandara-sandaran yang lainnya. Padahal semua yang kita sadari sangat mudah bagi Allah (mengatakan "sangat mudah" juga ini terlalu kurang etis), atau akan "sangat mudah sekali"bagi Allah untuk mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita bersandar hanya kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "Laa khaufun alaihim walaahum yahjanun", kita tidak akan pernah panik oleh apapun dan siapapun, insyaallah Jabatan diambil, tidak apa-apa, karena jaminan dari Allah tidak tergantung kepada jabatan kita. Apa artinya kita diberi jabatan, kedudukan dikantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita,bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. Kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan, jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kitaakan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang menyebabkan sikap kita jadi jauh dari kearifan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar